Dewa Absensi

Absensi. Apa yang ada di benak kawan-kawan mengenai hal yang satu ini? Berapa kali bolos, berapa kali terisi, tanda tangan dan daftar nama, bukan?Lalu menurut kawan-kawan, seberapa penting absensi ini dalam kehidupan perkuliahan kalian?

Bagi saya, absensi itu sama pentingnya dengan nyawa saya sendiri. Berlebihan? Saya rasa tidak, sebab saya hanya mencontoh apa yang telah dilakukan salah seorang dosen saya yang saya hormati. 🙂 Beliau sangat amat mendewakan selembar kertas bernama ABSENSI tersebut, sampai-sampai beberapa orang dari kami -termasuk saya- tidak diperbolehkan mengikuti ujian dari salah satu mata kuliah yang diajarkannya. Apakah kami membolos?

Sulit untuk diketahui secara pasti, tetapi kami berdua -saya dan salah seorang kawan baik saya-, telah rajin mengikuti perkuliahannya dan tidak pernah membolos. Ada salah satu pertemuan dimana beliau tidak hadir tetapi tetap saja beberapa orang mengisi absensi dan yang tidak mengisi dicoret memakai tinta biru. Termasuk saya, tentunya. Dan dua pertemuan terakhir lainnya, kami dianggap tidak ada. Hah, kami merasa sedang di-binatang-kan karena tidak dianggap. Bahkan dalam pertemuan terakhir, saya sempat bertanya mengenai materi kuliah yang beliau berikan. Dan kami pun merasa menandatangani kertas sakti tersebut! Tapi kami tidak pernah bisa membuktikan fakta tersebut HANYA dengan ingatan kami saja bukan? 🙂

Absensi, yang sebenarnya selalu kami -para mahasiswa- bisa saja dimanipulasi. Apakah anda familiar dengan kalimat berikut ini :

“Gue gak masuk, titip absen ya!”

Mahasiswa yang notabene lebih bodoh (ilmunya) daripada pendidiknya, berbuat hal seperti itu dan dosen mempercayai semuanya yang merupakan hasil manipulatif, bukankah merupakan suatu ironi tersendiri di dunia pendidikan? Dosen  (yang mungkin sedang bodoh, atau memang bodoh? :D) diperbodoh mahasiswanya sendiri. Dan aturan telah membuat yang tidak bersalah menjaaaaadi bersalah. Hebat sekali. Saya salut.

Terlebih ketika pendidik memasuki dunia politik. Apa gerangan? Sudah seperti politikus saja maksudnya, berjanji mengingkari dan melempar kewenangan kesana kemari layaknya pemain basket yang men-dribble bolanya. Ya, saya mengalaminya. Dengan bangga saya ucapkan, tegaskan sekali lagi bahwa SAYA MENGALAMINYA. Ketika kasus ini kami perjuangkan, tidak ada seorang pun, baik dari pihak jurusan maupun dosen yang bersangkutan mau menegaskan dengan jelas. Seolah mereka membuat buruk nasib kami lalu tidak mau mempertanggungjawabkannya. Dan kami dilempar, antara satu pihak ke pihak lain. Dijawabnya : “Kami tidak sekedar mengurusi kalian saja.” Bah! Kami sedang memperjuangkan apa yang menurut kami benar. Kalau kami bersalah, apakah kami mau mengurusi hal seperti ini? Tentuuuu tidak, karena bila terungkap kebenarannya, kami pun pasti akan malu sendiri. Kami berbuat begini karena kami merasa kami-lah yang benar. Bukankah tidak perlu takut selama kami benar?!

Dan satu lagi cacian yang saya sembahkan untuk kalian, wahai pembuat sistem. Apakah kalian sudah berkaca, sistem yang kalian buat sudah benar atau belum? Karena apabila benar kalian sangat mendewakan absensi, yang membuat kami-kami ini seolah dituduh melakukan suatu kejahatan dengan absensi sebagai bukti, uruslah dahulu nama-nama yang sering muncul dalam daftar tapi pada kenyataannya mereka sudah lama lepas dari perkuliahan!! Sudah benar belum? Dan saya ingin jaminan dari ANDA semua, bahwa yang bertanda tangan di atas kertas adalah 100% orang yang benar, bukan absen titipan. Kalau begitu, barulah kami terima bahwa ABSENSI MUTLAK KEBENARANNYA DAN TIDAK DAPAT DIGANGGU GUGAT.

Seperti orang sakit jiwa saja yang saya tuliskan. Tapi memang demikian, karena kasus ini pun mengancam masa depan saya. Betapa tidak, saya yang sudah tingkat akhir ini, memiliki impian bahwa saya harus sudah bisa lulus sebelum pergantian semester genap. Tapi dengan perlakuan ini, apakah mungkin? Mungkin saja, karena kami diperbolehkan mengikuti semester alih tahun, sebagai solusi atas tuntutan kami yang bahkan menurut kami masih belum adil. Tetapi pastinya, hasilnya tak akan lagi sesempurna seperti yang telah kami impikan. TIDAK AKAN PERNAH.

Dengan jalan bicara, kami tidak diberikan kesempatan membela. Maka dengan inilah kami mengeluarkan rasa. Mohon maaf atas ketersinggungan beberapa pihak yang terhormat.

Advertisements