kena hukuman (hiks)

Seperti yang telah dijanjikan sebelumnya, saya memiliki kewajiban untuk memposting 3 tulisan setiap minggu. hal ini berkaitan dengan hastag #postaweek dan #postnh yang saya dan pacar saya komitmen-kan.
Karena minggu kemarin saya sibuk dengan pekerjaan saya (dan diganggu oleh seorang :p) akhirnya minggu kemarin saya lalai dalam nge-blog.
Hukumannya? Memasang foto sang pacar. Oke, ini dia..

Dari lainlain

(bersama pacar yang sudah hampir 15 bulan menemani saya)

Penyumbang ide dari hukuman ini tidak lain tidak bukan adalah pacar saya ini, tujuannya ya supaya bisa numpang tenar di blog saya. -,-”
Apa mau dikata.. Nasi sudah menjadi bubur ayam.. 😀

Advertisements

Otak-otak yang Ku Makan, Berlubang di Hati

Kemarin waktu liburan di rumah, saya disuruh ibu mengasuh adik saya yang paling bungsu. Dia orangnya susah sekali untuk makan. Jadi ibu memberi perintah kepada saya untuk selalu memberinya makan, terutama saat dia pulang sekolah. Karena itu, saya memberinya cemilan : otak-otak.
Biasanya dia pulang sekolah jam 9, pada saat itu saya masih berleha-leha untuk kemudian beberes rumah. Karena hasrat saya untuk bersih-bersih baru timbul saat adik saya pulang ke rumah, akhirnya niat licik baik saya untuk mengajarkannya mandiri muncul. Saya suruh dia memotong sendiri otk-otak, mengupas kentang, memotongnya dan menaruhnya di piring. Kelas 4 SD masa gabisa sih? Hehehe.. tapi untuk urusan menggoreng, masih dipegang sama saya. 🙂
Nah, stelah saya selesai beberes rumah atau mencuci piring, saya mneggoreng bahan-bahan yang tadi disiapkan adik saya itu. Setelah semuanya matang, barulah saya menaruhnya di piring dan diberi bumbu macam bubuk keju, bubuk pedas atau rasa ayam seperti yang di jual di pinggir-pinggir jalan. Karena saya menyuruh adik untuk membuatnya lebih banyak dari biasanya, saya ikutan makan. Memang ini niat saya. Hahaha..
Nah, ketika makan, adik saya menemukan otak-otak yang seperti ini :

Dari lainlain

Lucu kan lubangnya berbentuk hati. Jadi pengen nyanyi : “ooooh, you know me so weeeell, girl I heart you” :najis

Nikmatnya Oat ala Gue! :)

Oat, siapa yang belum tahu jenis makanan ini?
Oat dibuat dari gandum, kalau Anda pernah melihatnya, bentuk oat seperti sereal di minuman berenergi seperti *ner*en. Apa ada bedanya? Wah saya juga kurang tahu. :p
Macam-macam cara menikmati oat, tapi sebagian besar yang saya tahu, oat dimasak dulu dalam air. Dulu ada kakak angkatan saya di kosan yang membuat oat yang ditambahkan sayur. Atau lain waktu dia menambahkan oat pada susunya (susu=milk, bukan susu yang lain looh ;p).
Saya sendiri dulunya tidak begitu suka dengan oat, apalagi ketika mencicipi oat instan salah satu produk minuman energy yang saya sebutkan tadi. Wueeeeekk.. sampai-sampai saya berjanji tidak akan pernah makan oat lagi. Tapi, seminggu yang lalu saya melanggarnya. ^^v
Ini bermula ketika saya berbelanja ke swalayan di daerah saya. Entah kenapa saya waktu itu kepingin makan oat. Daripada penasaran, karena saya tidak pernah menemukan cara menikmati oat, akhirnya saya beli sebungkus kecil oat itu. Tidak perlu oat bermerk, saya pakai oat yang diproduksi oleh swalayan tempat saya berbelanja tersebut.
Keesokan hari, saya beranikan diri, meniatkan hati supaya makan oat (haladalah..—, — “). Saya baca petunjuk di belakang kemasan. Tertulis : masak dengan air atau susu. Waduh, saya gak punya susu (milk), gimana yah?
Tak habis akal, saya punya kopi (karena tiap pagi kalo gak ngeteh, ya ngopi. Minum susu bukan kebiasaanku sih). Bisa ditebak kan apa yang terjadi? 🙂
Yap, pembaca, saya memasak kopi (kopi-susu) dan memasak oat ke dalamnya. Tapi karena pada percobaan pertama saya merasa kopi oat-nya kurang manis, saya pun menambahkan gula ke dalamnya sesendok. Lumayan enak.. 🙂 

Dari lainlain

Dalam soal makanan, saya memang orang yang pemilih. Masih ada beberapa makanan yang bahkan dikategorikan makanan sehat, tapi saaya belum bisa memakannya. Hmm, entahlah, saya juga berharap suatu saat bisa mencikmati makanan yang belum bisa saya nikmati sekarang.

Plangon, Tempat Wisata Monyet

Plangon yang terletak di kaki gunung Ciremai (Jalan Sumber menuju Mandirancan, Kuningan) bukanlah tempat wisata besar dan bukan juga tempat wisata UNTUK monyet, melainkan itu adalah tempat wisata yang dikelola oleh penduduk setempat di bawah PEMDA, dan merupakan cagar alam untuk monyet. Hehe.. :p
Hari Minggu, 15 Mei kemarin, saya dan adik saya yang paling bungsu kelas 4 SD jalan-jalan ke sana naik motor. Hitung-hitung menyenangkan adik. Ketika hari sebelumnya saya menceritakan rencana saya ini ke adik saya yang pertama (kelas 1 SMA), dia hanya bertanya balik “Mau ngapain? Nengokin temen yah? Ahahaha”. Siaaal, begitu pikir saya. Tapi gausah diladeni, namanya juga ababil. Hehehe.. (rasain kau dek, aku balas kau, aku posting di blog nih :p)
Setelah aku sarapan nasi lengko, aku beranjak pergi. Tidak lupa bawa uang untuk beli kacang dan biaya parkir motor disana. Gak usah bawa banyak, Cuma lima ribu rupiah, itu bisa kembali.
Perjalanan yang kami lalui gak begitu sulit dan memakan waktu lama, sekitar 20 menit kemudian kami sudah sampai di tempat. Kostum pun tidak perlu rapi, kemarin saya kesana cuma pakai kaos lengan panjang, kerudung, celana training dan sandal jepit saja. Bawa helm juga, kan naik motor. 😀
Pertama kali yang saya lakukan adalah mencari parkir. Yah tempat ini tidak perlu pakai karcis masuk seperti di tempat wisata lainnya karena letaknya persis di bahu jalan, hanya saja sedikit ada bagian yang lebar, disitulah biasanya monyet dan saudaranya monyet, ups, pengunjung memberi makan mereka. Beberapa penjual kacang terlihat berseliweran menjajakan kacangnya, yang nanti tidak akan kami makan tapi diberikan pada monyet. Harganya mahal menurut saya, yaitu satu plastik kecil seharga dua ribu rupiah. Yah, namanya juga tempat wisata kan.

Dari lainlain

Asik rasanya memberi makan monyet-monyet itu. Ada monyet jantan yang besar, seperti rajanya saja. Ada juga monyet betina yang menggendong anaknya yang mungil. Ada juga yang eek atau kencing, jok motor saya juga jadi korbannya, dikencingi oleh salah satu dari kawanan monyet-monyet itu. 😦

Dari lainlain

Hawa di tempat ini sejuk, tidak seperti di rumah kami. Karena daerah ini terletak di tanjakan pertama menaiki gunung Ciremai di sebelah selatan kota Cirebon, menghubungkan Sumber yang merupakan ibukota kabupaten dengan wilayah Kuningan.
Lain kali, ajak pacar kesini ah.. ^^

Haduh, si Adek

Di suatu siang.. (Tepatnya tadi siang)
Di depan tivi, hanya ada saya yang sedang asik main handphone dan adik saya yang paling kecil kelas 4 SD sedang membaca buku cerita, ya semacam komik Petruk-Gareng begitulah.. Dan tiba-tiba..
“Kak, “mencumbu” tuh apa sih??” Tanya adik.
Saya diam, berusaha memahami terlebih dahulu, dalam konteks bagaimana maksud pertanyaan adikku ini.
“Coba lihat bukunya..”
Disitu terbaca dengan sangat jelas oleh saya, “Wanita itu mengetahui suaminya yang sedang mencumbu seekor ular besar –Cerita Nyi Roro Kidul-”. Begitu tulisan cerita itu.
Sekilas saya berpikir, waw, buku cerita anak SD apa seperti begini yah?? Hingga adikku kembali mengajukan pertanyaannya. “Jadi ”mencumbu” itu apa?”
Saya jawab : “Itu tuh lagi tidur sama ular ceritanya..”
Untungnya, dia hanya berucap “Ooh..” dan kembali asik membaca buku cerita lain.
Untung saja saya tidak harus bercerita tentang si kumbang dan si bunga. 😀

Salam kompak selalu,

Helsa Permata

Berbahasa dengan Orang Jepang

Ada satu hal yang harus diingat ketika berbicara dengan orang Jepang memakai bahasa mereka. Apakah itu? Yah, bentuk kalimatnya harus sopan, kalau di bahasa Jawa-nya, harus berbahasa “kromo/krama”, kalau di bahasa Sunda-nya, harus berbahasa “lemes”.

Bagaimana kita berbahasa halus kepada mereka? Dalam bahasa Jepang, ada 2 bentuk kalimat yakni kalimat “bernuansa” biasa dengan kalimat “bernuansa” hormat. Contohnya adalah kalimat ini :

Watashi wa Helsa desu. –> Saya Helsa.
Bandung e ikimasu. –> Pergi ke Bandung.

Perhatikan kata yang digaris bawah. Desu ini tidak memiliki makna sebagai kata (misalnya watashi yang bermakna saya), lebih mudahnya, desu hanya memiliki fungsi penanda waktu kini (istilahnya, sebagai penanda Present Tense) dan sebagai kata penanda akhir kalimat.

Begitu halnya dengan ~masu, ia tidak memiliki arti sebagai suatu kata, tetapi merupakan penanda waktu kini dan sebagai penanda akhir kalimat juga. Yang membedakan ~masu dengan desu adalah kalimat ~masu didahului dengan predikat (kata kerja) dan kalimat desu didahului dengan kata benda, kata sifat, atau kata kerja bentuk biasa. (Kata kerja biasa? Lanjutkan bacanya yah :D)

~masu dan desu keduanya juga penanda untuk kalimat “bernuansa” sopan. Seperti apa kalimat yang “bernuansa” biasa?

Watashi wa Helsa da. –> Saya Helsa
Bandung e iku. –> Pergi ke Bandung

Perhatikan da dengan iku pada akhir kedua kalimat tersebut. Da merupakan bentuk biasa dari desu, sedangkan iku merupakan bentuk biasa dari ikimasu. Inilah kalimat dengan nuansa biasa. Tapi bagaimana jika :

Bandung e iku no desu.

Kalimat tersebut akan “bernuansa” hormat walaupun kata kerja yang dipakai merupakan bentuk biasa (iku). Hal ini karena sebelum titik sudah diakhiri dengan desu. Tetapi kalimat :

Watashi wa Helsa da desu.

adalah kalimat yang tidak akan pernah ditemukan dalam bahasa Jepang. Maka secara rumus bahasa :

Da + desu = tidak ada kalimatnya
Iku + desu = ada kalimatnya, bernuansa hormat

Inilah yang harus dipahami oleh pembelajar bahasa Jepang maupun yang sekedar menggunakannya saja. Karena untuk berbicara bahasa Jepang bernuansa biasa, kita harus mengenal orang Jepang lawan bicara kita setidaknya selama 6 bulan.

Kapan saja kita bisa berbahasa Jepang bernuansa biasa?

Ketika bicara dengan anak kecil atau dengan teman yang sudah sangat akrab, dan ketika membuat suatu aturan atau dengan kata lain berbahasa tulisan (di luar pidato atau surat kepada orang lain).
Kepada orang yang baru dikenal, atau kepada atasan dan orang tua, sebaiknya kita menggunakan bahasa Jepang bernuansa hormat, BAHKAN saat lawan bicara kita memakai bahasa Jepang bernuansa biasa, kita harus tetap memakai bahasa Jepang bernuansa hormat, karena ketika mereka berbicara bahasa Jepang bernuansa biasa, bukan berarti kita sudah dianggap akrab dengan mereka.

Gak jauh beda dengan bahasa Jawa atau bahasa Sunda kromo-lemes kan? Masa iya ketika kita menanggapi pembicaran orang tua yang (memang wajar memakai bahasa) biasa, kita menanggapi dengan bahasa biasa juga? 😀

Selamat berbahasa dan Have a 13th Friday!! 😀

Salam,

Helsa Permata

Nyasar Depok

Hari Sabtu, 7 Mei 2011 kemarin adalah hari dimana kami semua berbahagia karena satu pasangan yang kami –anak kosan–kenal juga sedang berbahagia di acara ijab kabul dan resepsi pernikahannya. Tentu, pernikahan dilangsungkan bukan di wilayah gersang Jatinangor, tetapi di daerah asal mempelai wanita yakni Kota Depok.

Hari yang berbahagia itu, kami menaiki mobil pribadi yang telah kami sewa sebelumnya (baca post : Rental mobil oh mobil). Berdandan dengan amat cantik, kami sempat berfoto sebelum keberangkatan kami. Sempat terlambat, dan sempat bikin bête diri saya pribadi, tapi yasudahlah. Mencoba untuk memaklumi walaupun sebenarnya itu adalah suatu kebiasaan buruk. Hmm..

Dari Depok in wedding ^^

depan kosan

Dari Depok in wedding ^^

narsis duluu^^

Dari Depok in wedding ^^

bukan mobil saya tapi tetep narsiss 😀

Hingga jam 10, barulah kami meninggalkan Jatinangor tercinta (yang seharusnya direncanakan berangkat pukul 8 pagi).

Di sepanjang tol Cipularang sampai Cikarang, kami belum menemui masalah. Semua sibuk dengan candaan, maklum saja, ada beberapa dari rombongan ini yang sudah tidak satu kosan lagi dengan kami alias sudah pindah ke kosan lain. Istilah kerennya, sedang melepas rindu di antara kami. 😀

Supir yang menjadi pahlawan hari ini bernama Gerdi, salah satu kawan baik teman saya yang ikut rombongan. Berikut penampakannya :

Dari Depok in wedding ^^

Gerdi sang penakluk sopir^^

Hingga keluar tol Cikarang Utama, perjalanan yang semula mulus menjadi berantakan ketika kami menyadari bahwa kami MELEWATI TOL CIKUNIR!! Wajarlah kami panik dan perjalanan menjadi berantakan, sebab bila ingin ke Depok dari Bandung haruslah keluar di pintu tol Cikunir itu tapi kami melewatinya!! Aaaarrrgghh..

Perjalanan yang sesungguhnya pun dimulai dari sini. Tak hilang akal, kami keluar di pintu tol Pondok Gede, bertanya kesana-kemari, kena macet pula!! Masuk kembali ke tol, terpaku pada GPS di handphone teman saya, hingga berhenti di rest area untuk menunaikan sholat.
Masuk lagi ke jalan, bertanya lagi, memantau GPS lagi, mencari jalan untuk masuk Jalan Lingkar Luar Jakarta, berpedoman pada GPS yang kondisi baterai handphone mulai sekarat, hingga saking keasikan dengan GPS, ada plang yang jelas-jelas menunjukkan arah Depok, kami lewati sehingga salah arah lagi. Haduuuuhh..

Dari Depok in wedding ^^

GPS andalan

Setelah putar sana putar sini Tanya sana Tanya sini, kami sampai di Depok. Apa kami sudah sampai di tempat resepsi? Tentu tidak. Bahkan di Depok pun kami bisa nyasar. Hebat gak tuh?? *bangga 😀

Dari Depok in wedding ^^

Akhirnyaaa 😀

Walhasil, perjalanan yang seyogianya memakan waktu 3-4 jam, akhirnya menghabiskan waktu 6 JAM!! Dahsyat gak tuh? Hihi.. Kami sudah terlalu capek, lapar dan emosi di jalan (Kami?? Hehehe, saya sih yang emosian), akhirnya sampai di tempat resepsi dan makan dengan lahap. (Saya gak tahu apa cuma saya yang makan dengan lahap ataukah yang lain juga sama). 😀

Kami tidak lama di sana karena mengingat jatah waktu sewa mobil yang habis karena tersasar. Tak lupa kami ucapkan doa untuk kedua mempelai. Tapi yang terpenting juga adalah mengetahui jalan pulang balik ke Bandung. Yah, pada akhirnya, kami juga nyasar lagi. Tapi gak separah waktu berangkat. Sepele saja, seharusnya kami langsung masuk ke tol Cawang-Ciliitan, malah kami nyasar (lagi) ke Pancoran. Ambil arah salah pula, malah ambil jalan kea rah Tangerang. Tapi untungnya semua berakhir dengan indah. Kami sampai di Jatinangor pukul 21.30 malam.

Huffft. Terimakasih teman-teman, terimakasih juga untuk Gerdi yang telah menjadi pahlawan sebagai sopir. Perjalanan kali ini wajar diwarnai dengan sasar-menyasar, sebab memang tidak ada satu pun dari kami yang hapal jalanan karena tidak ada yang orang Jakarta.
Sampai ketemu lagi di petualangan selanjutnya..

Daaan, salam!

Helsa Permata