Gaul ala Kindah

Kindah itu apa? Kindah itu nama kosan tempat aku tinggal sekarang. Kalo yang sebelumnya itu namanya Green Hill. Kosan aku yang sekarang tempatnya lumayan jauh dari kampus, sekitar 20 menit jalan kaki lah, kalo naik angkot, hmm mungkin sekitar 15 menit. Kenapa tetep lebih dari 15 menit? Yaiya, soalnya dari jalan raya ke kosan aku aja 10 menit jalan kaki. Kenapa gak pake ojek? Mahal bo. Kenapa.. Ah diem, banyak tanya deh.. πŸ˜€

Continue reading Gaul ala Kindah

Advertisements

Bye, Kamar Kosan Lama

Hari Selasa kemarin adalah hari kepindahan saya dari kosan lama ke kosan baru. Gak tau kenapa tapi saya ngerasa sedih. Apa karna sudah banyak kenangan (ceilah) yang dilewati di kamar itu? Sakit saya, sedih saya, senang saya, galau saya (hehe ^^v) semuanya dirasakan di kamar itu. Kamarku, oh kamarku. Kini aku harus meninggalkanmu, harus merelakanmu ditinggali pemilik baru.

Continue reading Bye, Kamar Kosan Lama

Pindah Kos

Empat tahun sudah saya tinggal di tempat kos hijau. Sekarang saatnya pindah. Alasannya sederhana. Lulus? Bukan. Kerja? Juga bukan. Tapi kosan lama saya ini sistemnya bayar per tahun, sedangkan saya kan mahasiswi tingkat akhir (CIEE) yang tinggal menyusun skripshit skripsweet skripsi, jadi saya mencari kosan yang sistemnya bayar per bulan.

Continue reading Pindah Kos

Makan di Sushi Bar Jatos

Nah, malam ini saya, teman saya Bella dan Listi (anggap saja nama samaran) makan di satu-satunya mall terbesar dan terlengkap yang ada di Indone..eh salah, di Jatinangor ding, hehe.. Iya, nama mallnya adalah Jatos alias Jatinangor Town Square. πŸ™‚ *SFX : keprok keprok keprok..
Entah kenapa, saya saat ini kepingin banget makan sushi, gak ada angin barat angin timur angin bohorok (:D), tiba-tiba kepingin sushi. Yasudahlah, saya mengajak kedua teman saya tadi itu. Daripada saya makan sendirian, geje banget kaan πŸ˜€
Menu yang ditawarkan gak terlalu banyak tapi juga gak terlalu sedikit, dan harga yang dibanderol (ceilah bahasanya) berkisar antara 10 ribu sampai 30 ribu rupiah. Saya sih pilih menunya yang simpel aja alias murah. Hehe..
Nih penampakan sushi yang saya pesan :

Dari lainlain

Namanya menu ini :

The Flying Krab

yakni sushi dengan telur ikura (telur ikan, kalau kata saya sih ikura desuka yang artinya : berapa harganya? :D) itu tuh yang warna orange namanya ikura, terus di dalam gulungannya ada lembaran rumput laut atau nori dan daging kepiting atau bahasa Jepangnya : kani.
Cara makannya pake sumpit, tapi ya kalau mau pake tangan juga gak dosa sih. Hehehe.. :p Oiya, terus pake kecap, saudara-saudara.
Biasanya kecap yang dipake tuh kecap ala Jepang, namanya shoyu, tapi yang ini mah pakenya kecap manis campur asin.. Tetep aja enak, apalagi ada bubuk cabenya πŸ˜€
Oh iya, rasanya sushi kaya gimana? Rasanya asem-asem cuka gitu, makanya harus sedia minum. Kalo engga, malah jadi enek setelah makan 3 atau 4 buah sushi itu. πŸ™‚
Setelah makan sushi, pulang deh ke kosan masing-masing. Makan malam yang bikin kenyang, sekaligus bikin mikir : besok masih ada duit makan gak ya. Hihi.. Makan yang kaya gini jangan setiap hari, kecuali kalo kita udah jadi direktur utama perusahaan gede πŸ˜€

Nyasar Depok

Hari Sabtu, 7 Mei 2011 kemarin adalah hari dimana kami semua berbahagia karena satu pasangan yang kami –anak kosan–kenal juga sedang berbahagia di acara ijab kabul dan resepsi pernikahannya. Tentu, pernikahan dilangsungkan bukan di wilayah gersang Jatinangor, tetapi di daerah asal mempelai wanita yakni Kota Depok.

Hari yang berbahagia itu, kami menaiki mobil pribadi yang telah kami sewa sebelumnya (baca post : Rental mobil oh mobil). Berdandan dengan amat cantik, kami sempat berfoto sebelum keberangkatan kami. Sempat terlambat, dan sempat bikin bΓͺte diri saya pribadi, tapi yasudahlah. Mencoba untuk memaklumi walaupun sebenarnya itu adalah suatu kebiasaan buruk. Hmm..

Dari Depok in wedding ^^

depan kosan

Dari Depok in wedding ^^

narsis duluu^^

Dari Depok in wedding ^^

bukan mobil saya tapi tetep narsiss πŸ˜€

Hingga jam 10, barulah kami meninggalkan Jatinangor tercinta (yang seharusnya direncanakan berangkat pukul 8 pagi).

Di sepanjang tol Cipularang sampai Cikarang, kami belum menemui masalah. Semua sibuk dengan candaan, maklum saja, ada beberapa dari rombongan ini yang sudah tidak satu kosan lagi dengan kami alias sudah pindah ke kosan lain. Istilah kerennya, sedang melepas rindu di antara kami. πŸ˜€

Supir yang menjadi pahlawan hari ini bernama Gerdi, salah satu kawan baik teman saya yang ikut rombongan. Berikut penampakannya :

Dari Depok in wedding ^^

Gerdi sang penakluk sopir^^

Hingga keluar tol Cikarang Utama, perjalanan yang semula mulus menjadi berantakan ketika kami menyadari bahwa kami MELEWATI TOL CIKUNIR!! Wajarlah kami panik dan perjalanan menjadi berantakan, sebab bila ingin ke Depok dari Bandung haruslah keluar di pintu tol Cikunir itu tapi kami melewatinya!! Aaaarrrgghh..

Perjalanan yang sesungguhnya pun dimulai dari sini. Tak hilang akal, kami keluar di pintu tol Pondok Gede, bertanya kesana-kemari, kena macet pula!! Masuk kembali ke tol, terpaku pada GPS di handphone teman saya, hingga berhenti di rest area untuk menunaikan sholat.
Masuk lagi ke jalan, bertanya lagi, memantau GPS lagi, mencari jalan untuk masuk Jalan Lingkar Luar Jakarta, berpedoman pada GPS yang kondisi baterai handphone mulai sekarat, hingga saking keasikan dengan GPS, ada plang yang jelas-jelas menunjukkan arah Depok, kami lewati sehingga salah arah lagi. Haduuuuhh..

Dari Depok in wedding ^^

GPS andalan

Setelah putar sana putar sini Tanya sana Tanya sini, kami sampai di Depok. Apa kami sudah sampai di tempat resepsi? Tentu tidak. Bahkan di Depok pun kami bisa nyasar. Hebat gak tuh?? *bangga πŸ˜€

Dari Depok in wedding ^^

Akhirnyaaa πŸ˜€

Walhasil, perjalanan yang seyogianya memakan waktu 3-4 jam, akhirnya menghabiskan waktu 6 JAM!! Dahsyat gak tuh? Hihi.. Kami sudah terlalu capek, lapar dan emosi di jalan (Kami?? Hehehe, saya sih yang emosian), akhirnya sampai di tempat resepsi dan makan dengan lahap. (Saya gak tahu apa cuma saya yang makan dengan lahap ataukah yang lain juga sama). πŸ˜€

Kami tidak lama di sana karena mengingat jatah waktu sewa mobil yang habis karena tersasar. Tak lupa kami ucapkan doa untuk kedua mempelai. Tapi yang terpenting juga adalah mengetahui jalan pulang balik ke Bandung. Yah, pada akhirnya, kami juga nyasar lagi. Tapi gak separah waktu berangkat. Sepele saja, seharusnya kami langsung masuk ke tol Cawang-Ciliitan, malah kami nyasar (lagi) ke Pancoran. Ambil arah salah pula, malah ambil jalan kea rah Tangerang. Tapi untungnya semua berakhir dengan indah. Kami sampai di Jatinangor pukul 21.30 malam.

Huffft. Terimakasih teman-teman, terimakasih juga untuk Gerdi yang telah menjadi pahlawan sebagai sopir. Perjalanan kali ini wajar diwarnai dengan sasar-menyasar, sebab memang tidak ada satu pun dari kami yang hapal jalanan karena tidak ada yang orang Jakarta.
Sampai ketemu lagi di petualangan selanjutnya..

Daaan, salam!

Helsa Permata

Kepada Pencuri Sepatu Kets Anak Kosan

Tadi malam ketika hendak tidur, saya dikejutkan oleh suara anak-anak kosan ramai di sepanjang lorong kamar. Saya keluar kamar.
β€œKak Helsa ada sepatu yang ilang gak?” kata salah seorang junior.
Segera saya melirik sepatu basket di rak sepatu. Masya Allah, udah ilang 😦
Saya langsung ke ruang tengah mengecek sepatu yang biasa saya pakai untuk kuliah, sudah tidak ada juga..
β€œIya hilang 2.. :(”kataku lemas.
Pencuri oh pencuri, kau tahu, saya juga sama seperti kamu, butuh uang butuh makan. Tapi saya gak mau kalau harus mencuri sebab saya masih punya harga diri.
Semoga pencurinya mandul biar anaknya gak makan uang haram hasil curiannya. Amiin..